Industri dan Peternakan Babi | OmJis.com

Industri dan Peternakan Babi

October 28th, 2011 Rajhis 0 Comments

Masyarakat Bali memiliki minat yang tinggi terhadap daging babi. Selain rasanya yang enak, hewan babi digunakan dalam upacara-upacara keagamaan di pulau tersebut.

Daging babi merupakan salah satu sumber protein hewani. Bila dibandingkan dengan asam amino esensial pada protein nabati, kualitas asam amino esensial pada daging babi lebih lengkap. Proporsinya pun jauh lebih seimbang.

Pertumbuhan penduduk di Bali sebanding dengan bertambahnya konsumsi daging babi. Setiap tahunnya, pemotongan babi juga meningkat rata-rata sebesar 5,4%.

Di daerah Bali, peternakan babi sangat berperan dalam memberikan bahan pangan berupa hewan. Selain itu juga menambah penghasilan bagi peternak babi. Mengapa demikian?

Modal yang dibutuhkan untuk mulai beternak babi relatif lebih murah dibanding modal yang diperlukan untuk beternak hewan potong besar yang lain. Babi yang beranak banyak (bersifat prolifik) juga merupakan faktor pendukung.

Yang paling utama dalam beternak babi adalah kualitas pakan ternak untuk perbaikan gizi. Hal ini dilakukan agar mutu daging babi lebih meningkat. Karena itulah, biaya terbesar dalam beternak babi adalah biaya pakan ternak, yaitu mencapai 55-88% dari keseluruhan biaya.

Jadi, harus diupayakan mencari pakan ternak yang bisa lebih menekan biaya, namun tetap berkualitas dan mengandung nilai gizi yang tinggi untuk ternak babi.

Kendala-kendala untuk meningkatkan produktivitas ternak, yaitu kurangnya induk pejantan. Tingginya biaya pemeliharaan seekor pejantan mengakibatkan tidak semua peternak mampu memiliki pejantan, terutama peternak kecil yang lokasinya di pedesaan.

Untuk mengatasi kesulitan tersebut, maka dibuatlah sistem inseminasi buatan (IB) atau sistem kawin suntik. Penerapan sistem kawin suntik ini sangat efektif, karena bisa dilakukan dengan cepat, terutama untuk peternakan yang lokasinya berjauhan. Mengenai biaya juga relatif murah. Hanya Rp25.000 untuk satu kali kawin dengan sistem suntik, hingga induk babi siap beranak.

Namun, untuk menjalankan sistem ini, bukan tidak ada kendala. Kendala yang ditemukan adalah kurangnya tenaga inseminator yang benar-benar dapat menguasai teknik inseminasi pada sistem kawin suntik ini.

Sebenarnya, peluang untuk menjadi inseminator sangat besar. Pekerjaan ini juga sangat menjanjikan. Selain bisa mendapatkan uang yang cukup, menjadi inseminator akan memperluas interaksi sosial, terutama dengan masyarakat yang bergerak di bidang peternakan.

Sebelumnya juga telah dilatih sejumlah orang untuk tenaga inseminator. Namun, jumlahnya masih belum mencukupi kebutuhan. Dalam mengelola peternakan babi, pembuangan limbah juga harus menjadi perhatian utama. Campuran antara bangkai hewan, kotoran, dan air kencing hewan merupakan polusi lingkungan yang berasal dari hewan.

Biasanya, di dalam industri peternakan hewan babi, limbah berupa kotoran dan air kencing ditampung di sebuah kolam penampungan besar yang disebut lagoon, atau disimpan di dalam tangki besar. Sayangnya, kotoran-kotoran tersebut dibuang ke daratan, sehingga menyebabkan polusi tanah dan air.

Kotoran itu tersebar di lingkungan dalam bentuk gas ammonia sebesar 30%. Sementara itu, tingginya kadar nitrat pada air yang berada di dekat tempat penyimpanan makanan ternak, menimbulkan resiko tinggi dan menyebabkan keguguran pada wanita hamil.

Industri dan ternak babi memang sangat menguntungkan. Namun, masalah limbah harus dipikirkan dan dicari solusinya agar tidak mencemari lingkungan.

Incoming search terms:

 

Sign up Free Email Newsletter

Stay Updates with this Blog. Get Free email newsletter updates, Enter your Email here:

Don't forget to confirm your email subcription

   

No Comment to “Industri dan Peternakan Babi”

  1. No Comment yet. Be the first to comment...

Leave your comment here: